Kue Putu: Jajanan Khas yang Tak Lekang oleh Waktu

Sore itu, saya berhenti di depan gerobak Pak Salim di sudut pasar Kotacurup. Suara desis uap dan aroma harum pandan langsung menyapa. Di atas tungku kecil, sederet cetakan bambu mengeluarkan asap tipis. Pak Salim menuang adonan tepung beras ke dalam cetakan, menambahkan gula merah di tengahnya, lalu menutupnya dengan lapisan adonan lagi. Dalam sebntar, kue putu kukus siap dinikmati. Bagi saya, momen itu bukan sekadar jajan, melainkan sebuah pelajaran tentang bagaimana tradisi bisa bertahan tanpa kehilangan esensinya.
Mengapa Kue Putu Tetap Dicari?
Di era yang dipenuhi oleh kue kekinian dengan topping melimpah, kue putu justru menawarkan kesederhanaan. Bahan dasarnya hanya tepung beras, gula merah, dan sedikit garam. Namun, kesederhanaan ini justru menjadi kekuatannya. Ketika saya bertanya kepada Pak Salim mengapa ia tidak mengganti cetakan bambu dengan cetakan logam, ia tertawa. “Kalau pakai logam, rasanya beda,” katanya. Ternyata, bambu memberikan aroma khas yang tidak bisa ditiru. Selain itu, pori-pori bambu membantu uap panas menyebar merata, menghasilkan tekstur kue yang lembut namun padat.
Dari sudut pandang gizi, kue putu juga menarik. Tepung beras adalah sumber karbohidrat yang mudah dicerna, sementara gula merah memberikan energi instan. Tidak ada tambahan pengawet atau pewarna buatan. Mungkin inilah alasan mengapa jajanan khas ini masih dicari, bukan hanya oleh generasi tua, tetapi juga anak-anak muda yang penasaran dengan rasa autentik.
Rahasia Cetakan Bambu
Satu hal yang selalu membuat saya penasaran adalah proses pembuatan cetakan bambu itu sendiri. Bambu yang digunakan biasanya bambu betung atau bambu apus, yang memiliki ruas cukup panjang dan diameter sekitar 3-4 sentimeter. Pak Salim mengambil bambu dari hutan di lereng bukit Kotacurup, lalu memotongnya sepanjang 10 sentimeter. Bagian dalam dibersihkan dari serat kasar agar adonan tidak lengket. Setiap kali selesai digunakan, cetakan direndam air agar tidak kering dan retak.
Saya kemudian membaca lebih lanjut tentang sejarah kue putu. Menurut sumber dari Wikipedia Indonesia, kue putu diperkirakan berasal dari Tionghoa dan telah beradaptasi dengan selera Nusantara. Di berbagai daerah, kue ini memiliki variasi nama seperti putu bumbung (Jawa), putu mayang (Sumatera), dan lainnya. Namun, esensinya tetap sama: tepung beras yang dikukus dalam cetakan bambu dengan isian gula merah dan taburan kelapa parut.
Setelah menikmati tiga potong kue putu, saya pamit pada Pak Salim. Sambil membungkus beberapa untuk dibawa pulang, ia berpesan, “Jangan lupa dimakan hangat, biar kenyalnya pas.” Di luar pasar, matahari hampir tenggelam. Saya tersenyum, menyadari bahwa jajanan khas seperti kue putu bukan sekadar pengisi perut, melainkan pengikat memori dan tradisi. Di tengah hingar-bingar kuliner modern, masih ada sudut-sudut Kotacurup yang setia menjaga warisan rasa. Cobalah sendiri, dan Anda akan mengerti mengapa kue putu tak pernah kehilangan tempat di hati para penikmatnya.

